Peta Risiko Kerusakan Hutan Terhadap Bencana Tanah Longsor Kabupaten Temanggung (GeoCommons)


View map on GeoCommons

Peta Risiko Kerusakan Hutan Terhadap Bencana Tanah Longsor Kabupaten Temanggung (Google Map)


View risiko in a larger map

Kamis, 14 Februari 2013

Teori –Teori Kependudukan Tentang Sumber Daya

 
Tingginya laju pertumbuhan penduduk dibeberapa bagian dunia menyebabkan terjadinya peningkatan yang cukup derastis  pada jumlah penduduk dunia. Oleh sebab itu, banyak ahli kependudukan yang mencari faktor-faktor  penyebabnya. Umumnya para ahli dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari penganut aliran Malthusian, kelompok kedua terdiri dari penganut aliran Marxist, dan kelompak ketiga terdiri dari pakar-pakar teori kependudukan mutakhir.

    Aliran Malthusian
Aliran ini dipelopori oleh seorang pendeta Inggris bernama Thomas Robert Malthus. Malthus menyatakan bahwa apabila penduduk tidak ada pematasan, akan berkembang biak dengan cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi. Tingginya pertumbuhan penduduk disebabkan oleh hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. Disamping tiu Malthus juga berpendapat bahwa manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan bahan makanan lebih lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk. Apabila tidak diadakan pembatasan terhadap pertumbuhan penduduk, maka akan terjadi kekurangan bahan makanan sehingga banyak terjadi kemelaratan dan kemiskinan.
Menurut Malthus pembatasan tersebut dapat dilakukan dengan dua cara. Yaitu positive check dan preventive check. Positive cek merupakan pengurangan penduduk melalui proses kematian. Positive check juga dibagi menjadi dua, yaitu vice yaitu pembunuhan dengan cara mencabut nyawa dan misery yaitu pembunuhan dengan cara kemelaratan (seperti penyebaran jenis penyakit, bencana alam, kelaparan, dan lain sebagainya). Sedangkan preventive check adalah pengurangan jumlah penduduk dengan cara menekan kelahiran. Cara ini dibagi menjadi dua, yaitu moral restraint (pengurangan kelahiran dengan cara pengendalian nafsu) dan vice (pengurangan kelahiran dengan cara pengguguran kandungan).


      Aliran  Neo-Malthusians
Aliran Neo-Malthusians merupakan kelompak yang menyongkong aliran Malthus yang lebih radikal. Kelompok ini tidak setuju dengan Maltus mengenai pengurangan jumlah penduduk cukup dengan moral restraint saja
Aliran ini berpendapat bahwa cara penekanan jumlah penduduk atau pembatasan kenaikan jumlah penduduk dengan cara menggunakan alat-alat kontrasepsi.
Neo-multhisian hingga sekarang masih digunakan oleh penduduk dunia. Contohnya dari Gerakan Keluarga Berencana. Hingga kini kelanjutan langsung dari gerakan tersebut masih ada, gerakan yang bermula dari pada saat masa hidupnya malthus. Meskipun tidak dipungkiri pada masa sekarang tidak semua orang berfikir untuk mencanangkan gerakan keluarga berencana.

     Aliran Marxist
Aliran ini dipelopori oleh karl Mark dan Friedrich Engels. Menurut Mark tekanan penduduk yang terdapat di suatu Negara bukanlah tekanan penduduk  terhadap bahan pangan, tetapi tekanan penduduk terhadap kesempatan kerja. Marxist juga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk. Kemelaratan bukan terjadi karena pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat, namun disebabkan oleh struktur masyarakatnya itu sendiri.

      Teori  Kependudukan Mutakhir
a.       John Stuart Mill
Berpendapat bahwa pada situasi tertentu, manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya, bila produktifitas seseorang tinggi, ia cenderung ingin mempunyai keluarga kecil, dan umumnya perempuan tidak menghendaki anak banyak. Maka Fertilitas akan rendah (Taraf hidup mempengaruhi fertilitas). John Stuart Mill menentang pendapat  Malthus & Marx, yaitu tidak benar bahwa kemiskinan tidak dapat dihindarkan ( Malthus ), kemiskinan disebabkan karena sistem kapitalis ( Marx ), dan Kekurangan bahan pangan bersifat sementara.
Hal tersebut dapat diatasi dengan  Impor bahan pangan dan transmigrasi.  Mill menyarankan dengan meningkatkan gololongan taraf hidup yang tidak mampu misalnya melalui pendidikan, dengan demikian penduduk secara rasional mereka akan mempertimbangkan perlu tidaknya menambah jumlah anak sesuai dengan karier dan usaha yang ada. Mill juga mengumakakan bahwa umumnya perempuan tidak menghendaki anak yang banyak, dan apabila kehendak mereka diperhatikan maka tingkat kelahiran akan akan rendah.

b.  Arsene Dumont
Pada tahun 1890 Arsene Dumont melancarkan Teori Kapilaritas Sosial ( theory of social capalirity ) yang mengacu pada : “ Keinginan seseorang untuk mencapai kedudukan yg tinggi di masyarakat”. Teori ini dapat berkembang baik pada Negara Demokrasi. Di Perancis (abad 19) dimana sisitem demokrasi sangant baik, Tiap orang berlomba mencapai kedudukan yang tinggi & akibatnya angka kelahiran turun dengan cepat, berbeda dengan Di Negara Sosialis tidak ada kebebasanuntuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan Sistem kapilaritas sosial tidak dapat berjalan dengan baik.

c.       Emile Durkheim
 Emile Durkheim menenekanan perhatiannya pada akibat pertumbuhan penduduk yang tinggi . Ia mengatakan pada suatu wilayah dimana angka kepadatan penduduknya tinggi akibat dari tingginya laju pertumbuhan penduduk, maka akan timbul persaingan diantara penduduk untuk mempertahankan hidupnya. Dalam usaha memenangkan persaingan tiap- tiap orang berusaha untuk meningkatkan Pendidikan & ketrampilan dan mengambil Spesialisasitertentu. Keadaan seperti ini jelas terlihat pada masyarakat perkotaan dengan kehidupan yang kompleks. Apabila dibandingkan antara masyrakat tradisional dan masyarakat industry, akan terlihat bahwa pada masyarakat tradisional tidak terjadi persaingan yang ketat dalam memperoleh pekerjaan, pada masyrakat industry persaingan sangat ketat. Tesis dari Durkheim ini didasarkan atas teori evolusi Darwin dan juga pemikiran dari Khaldun.

d.      Michael Thomas Sadler dan Doubleday
Thomson mengeumukakan “ Daya reproduksi dibatasi oleh jumlah penduduk, jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia akan menurun” (demikian juga sebaliknya). Teori Doubleday hampir  sama dengan teori  Sadler, hanya titik tolaknya berbeda. Kalau Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan kepadatyan penduduk,maka doubleday berpendapat bahwa daya reproduksi berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia.
Menurut Doubleday, kekurangan bahan makanan merupakan perangsang bagi daya reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru pengekang perkembangan penduduk. Teori fisiologi ini banyak di ilhami oleh teori reaksi dan reaksi dalam meninjau perkembangan penduduk suatu Negara atau wilayah. Teori ini dapat pula menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat mortalitas penduduk semakin tinggi pula tingkat produksi manusia.

e.       Teori Teknologi
Penganut teori ini berangapan bahwa “ Manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu melipatgandakan produksi pertanian dan  mengolah bahan-bahan habis pakai.” Dengan teknologi  dunia dapat menampung 15 miliun orang dan dunia tidak akan kehabisan sumber daya alam. Kelompok Teknologi menentang teori daripada Malthus. Kelompok Malthus & Kelompok Teknologi  mendapat kritik dari kelompok ekonomi karena kedua- duanya tidak memperhatikan organisasi social dimana distribusi pendapatan tidak merata sehingga menimbulkan penduduk tetap ada yang miskin. Contoh: di Brasilia, dimana GNP ( pendapatan nasional ) tidak dinikmati oleh rakyat banyak.


     Teori Boserupian
Teori ini dikemukakn Ester Boserup dan para pengikutnya (Neo-Boserupian). Faham Boserup gaya baru lebih menekankan pada pengaruh tekanan penduduk ini terhadap masyarakat. Menurutnya, tekanan penduduk justru dapat mempercepat inovasi teknologi, dan masyarakat cenderung berusaha mencari teknologi baru atau mengadaptasi teknologi yang ada pada lingkungan baru. Degradasi lahan dapat terjadi karena masyarakat cenderung mengeksploitasi lahan-lahan pertanian yang ada dan mengakibatkan penambangan lahan.
Teori Boserupian berfokus pada hubungan antara tiga factor, yaitu penduduk, lingkungan, dan teknologi. Konsep 'penduduknya,' berbeda dengan Malthus, meliputi kepadatan penduduk serta ukuran mutlak dan pertumbuhan. Seperti Malthus, konsep lingkungan terutama mengacu pada sumber daya lahan dan faktor-faktor terkait seperti iklim dan kualitas tanah. Karena fokusnya adalah sejarah baik civilzations atau negara-negara berkembang, 'teknologi' menurut Boserup, seperti halnya dengan Malthus, terutama mengacu pada alat-alat dan input yang digunakan dalam pertanian, kegiatan produktif utama di masyarakat.
Menurutnya terdapat hubungan yang sangat erat antara penduduk, lingkungan dan teknologi. Hal ini umumnya disepakati bahwa perubahan teknologi memiliki pengaruh penting pada ukuran populasi.




Sumber :
Mantra,Ida Bagoes.2000.Demografi Umum.Pustaka Pelajar:Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...